Petani Karet Di Sumsel Diterkam Beruang Madu Hingga Patah Tulang

Tohavit.com – Salah seorang pria yang berprofesi sebagai petani karet tiba-tiba diserang oleh beruang pada saat di hutan. Pria yang bernama Nopi Elviana (34) diserang oleh beruang dan mengalami luka yang cukup parah.

Korban tiba-tiba di serang oleh beruang pada bagian tubuhnya. Diketahui korban mengalami patah tulang hidung dan menderita luka parah setelah diserang beruang madu. Kejadian tersebut berlangsung di sebuah hutan yang berada di Musi Rawas Utara, Sumatera Selatan (Sumsel).

Hal tersebut merupakan dampak dari begitu banyaknya jumlah hutan yang saat ini beralih fungsi. Kepala Seksi Konservasi Wilayah II Lahat BKSDA Sumsel, Martialis Puspito KM mengatakan konflik antara beruang madu dan masyarakat sebenarnya sudah terjadi beberapa tahun terakhir. Konflik disebabkan karena habitat beruang madu mulai terganggu dengan aktifitas masyarakat yang terus membuka lahan untuk perkebunan.

“Sebenarnya kejadian ini sudah sering terjadi setiap tahun dan pada tahun 2015 itu ada satu orang korban meninggal dunia karena diserang beruang madu saat berkebun. Beruang madu ini akan menyerang secara membabi buta. Mereka juga panik saat mencari makan dan masuk perkebunan masyarakat karena hutan sebagai habitatnya sudah beralih fungsi,” kata Martialis di kantornya Jalan Kolonel H Burlian, Palembang, Jumat (8/11/2017).

Untuk wilayah Musi Rawas Utara memang lebih banyak dihuni oleh binatang buas berjenis Beruang madu. Dengan kehadiran beruang madu tersebut sebenarnya sudah kerap sekali menimbulkan konflik di masyarakat. BKSDA Sumsel juga telah mengirim tim ke lokasi di mana beruang madu menyerang Evi saat sedang menyadap karet di Desa Lebak Rumbai, Kecamatan Rumpit, Kabupaten Musi Rawas Utara pada Kamis (7/) sekitar pukul 07.00 WIB. Tim akan melakukan pemantauan terhadap keberadaan beruang madu yang telah menyebabkan konflik.

“Tadi malam kita mendapat laporan dari masyarakat dan hari ini tim sudah berangkat ke lokasi saat beruang menyerang petani. Lokasinya memang rawan binatang buas, jadi nanti akan ada pendampingan juga dari masyarakat sekitar untuk memandu ke lokasi,” papar Martialis.

Untuk mengatasi timbulnya konflik di masyarakat dengan binatang buas yang dengan tiba-tiba datang ke perkampungan warga Martilalis meminta segera melaporkan ke BKSDA Sumsel jika melihat adanya tanda-tanda atau jejak. Sehingga, BKSDA dapat mengambil tindakan awal sebelum adanya korban jiwa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *